Bagi banyak traveler, menjelajahi Eropa sering dianggap sebagai impian mahal yang sulit diwujudkan. Namun, para backpacker profesional membuktikan bahwa liburan ke benua biru bisa tetap seru dan terjangkau. Dengan perencanaan matang dan strategi cerdas, kamu bisa menikmati 7 hari di Eropa tanpa membuat dompet menjerit. Yuk, simak rahasia backpacker profesional agar perjalanan hematmu tetap nyaman dan berkesan!
1. Pilih Rute Negara yang Berdekatan
Rahasia utama backpacker berpengalaman adalah efisiensi waktu dan biaya transportasi. Saat merencanakan perjalanan ke Eropa, pilih negara-negara yang berdekatan, seperti Jerman–Belanda–Belgia atau Italia–Swiss–Austria.
Dengan rute semacam ini, kamu bisa memanfaatkan transportasi darat seperti bus antarnegara FlixBus atau kereta murah seperti Eurail Pass dan Interrail. Harga tiketnya bisa jauh lebih hemat dibanding penerbangan antarnegara. Selain itu, kamu juga akan lebih leluasa menjelajahi kota-kota kecil yang tak kalah menarik dari destinasi populer.
2. Pesan Tiket Jauh Hari dan Manfaatkan Promo
Para backpacker profesional tahu betul pentingnya timing dalam berburu tiket murah. Gunakan situs pembanding harga seperti Skyscanner atau Google Flights untuk menemukan tiket pesawat ke Eropa dengan harga terbaik.
Biasanya, tiket promo muncul 2–3 bulan sebelum keberangkatan. Untuk penerbangan domestik di Eropa, maskapai low-cost carrier seperti Ryanair, Wizz Air, atau EasyJet bisa menjadi pilihan cerdas dengan harga mulai dari Rp300.000-an sekali jalan.
3. Akomodasi Murah tapi Nyaman
Menginap di hotel bintang lima bukan prioritas bagi backpacker sejati. Sebagai gantinya, mereka memilih hostel, guest house, atau bahkan couchsurfing—platform yang memungkinkanmu menginap gratis di rumah warga lokal.
Selain lebih hemat, kamu juga bisa mendapatkan pengalaman budaya yang autentik dan kesempatan berteman dengan traveler lain dari seluruh dunia. Untuk pilihan aman dan terjangkau, situs seperti Hostelworld dan Booking.com bisa membantu mencari penginapan dengan rating baik di bawah Rp300.000 per malam.
4. Masak Sendiri dan Cicipi Street Food Lokal
Salah satu pengeluaran terbesar saat traveling di Eropa adalah makanan. Backpacker profesional biasanya memilih penginapan dengan dapur umum agar bisa memasak sendiri. Bahan makanan di supermarket seperti Lidl atau Aldi sangat terjangkau—dengan Rp100.000, kamu sudah bisa menyiapkan makanan untuk seharian.
Namun, jangan lewatkan kesempatan mencicipi street food lokal! Misalnya wafel Belgia, pretzel Jerman, atau gelato Italia—semuanya bisa didapat dengan harga di bawah 5 euro.
5. Gunakan Kartu Transportasi dan Jalan Kaki
Kunci efisiensi lain adalah memanfaatkan city pass atau kartu transportasi harian. Hampir semua kota besar seperti Paris, Amsterdam, dan Berlin memiliki kartu yang mencakup akses metro, bus, dan trem dengan harga lebih hemat dibanding beli tiket satuan.
Selain itu, banyak objek wisata yang saling berdekatan. Jadi, berjalan kaki bukan hanya menghemat uang, tapi juga memberi kesempatan menikmati suasana kota lebih dekat dan autentik.
6. Prioritaskan Destinasi Gratis dan Hidden Gem
Tak semua keindahan Eropa harus dinikmati dengan tiket mahal. Banyak museum yang menawarkan hari gratis kunjungan, taman kota yang memesona, hingga bangunan bersejarah yang bisa dinikmati dari luar tanpa biaya.
Backpacker profesional sering mencari hidden gem seperti Bruges di Belgia, Hallstatt di Austria, atau Český Krumlov di Ceko—kota kecil yang indah namun belum terlalu ramai turis.
7. Bawa Barang Secukupnya
Membawa terlalu banyak barang hanya akan merepotkan, apalagi saat berpindah kota. Gunakan tas ransel berkapasitas 40–50 liter dan bawa pakaian multifungsi yang mudah dicuci dan cepat kering. Selain praktis, kamu juga bisa menghemat biaya baggage fee di pesawat.
Kesimpulan
Menjelajahi Eropa selama 7 hari dengan budget minimal bukan hal mustahil. Dengan strategi ala backpacker profesional—mulai dari memilih rute efisien, berburu tiket murah, hingga pintar mengatur pengeluaran—liburan impian bisa menjadi nyata tanpa menguras tabungan.
Yang terpenting, nikmati setiap momen perjalanan dengan hati terbuka dan rasa ingin tahu yang besar. Karena bagi para traveler sejati, nilai sebuah perjalanan tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi dari seberapa banyak pengalaman yang didapatkan.
